Kisah Sejoli Mengemas UKM31 Januari 2012
Keluhan yang kerap terdengar di kalangan Usaha Kecil Menengah (UKM) adalah ketidakmampuan mereka membuat kemasan yang bagus dan menarik. Mereka pun akhirnya menggunakan kemasan ala kadarnya. Padahal, kemasan yang menarik bisa mendongkrak harga jual suatu produk. Jika produk mereka dikemas secara menarik, dengan jumlah UKM di Indonesia yang mencapai 42,4 juta pada 2005 (menurut data Wikipedia), nilai bisnis mereka tentu akan terdongkrak secara nasional.
Peluang itulah yang ditangkap Delli Gunarsa dan Maria Magdalena. Pasutri ini sejak 2007 mendirikan CV D&D Indonesia yang bergerak di bidang kemasan produk UKM. “Pabrikan besar pembuat kemasan hanya mau menerima pesanan order puluhan juta rupiah. Mana ada UKM yang sanggup,” ujar Delli.
D&D menyediakan beragam kemasan dengan harga terjangkau. Mulai dari kemasan saset 40 gram seharga Rp 250 per buah dengan minimum pesanan 20 ribu buah, hingga pouch kilogram seharga Rp 1.600 per buah dengan minimum pesanan 3 ribu buah. Kemasan karton silinder (composite carbon) yang biasa dipakai untuk keripik kentang dihargai Rp 8.000 per tabung. Tersedia pula kemasan minyak goreng plastik lengkap dengan tutup ulirnya. Setelah dua tahun berjalan, D&D membukukan penjualan sekitar Rp 300 juta per bulan. Belum begitu besar, memang. Namun, pelanggannya terentang dari Aceh hingga Papua. Pelanggan tetapnya antara lain Teh Rosella dan Kripik Christine Hakim dari Padang.
Persinggungan sejoli Delli-Maria di bisnis ini diawali ketika mereka kesulitan mencari kemasan yang baik untuk produk snack tradisional yang mereka jual melalui Carrefour. “Dari tahun 2000 hingga sekarang, kami menjual produk tradisional siap santap seperti abon ikan, bawang goreng, kacang goreng dan sebagainya,” papar Maria kepada SWA di rumahnya yang merangkap tempat produksi di Perumahan Cengkareng Indah, Jakarta Barat.
Berhubung tak menemukan satu pun perusahaan yang mau memenuhi permintaan mereka yang jumlahnya kecil, mereka lantas putar otak. Setelah memperhatikan dan bertanya sana-sini, mereka akhirnya menemukan penjual mesin kemasan. Persoalan lain muncul: tidak ada yang bisa mencetak dengan model laminating. Alhasil, waktu itu tahun 2006, mereka harus berkeliling di seantero Jakarta untuk mencari percetakan seperti yang mereka harapkan. Berangkat pukul 9 pagi dengan mobilnya, sambil membawa plastik dan desain, lantas baru kembali pukul 9 malam. Setengah bulan kemudian, barulah bisa ditemukan percetakan yang bersedia mengikuti kemauan D&D.
Kemasan D&D terdiri dari beberapa komponen. Misalnya plastik kemasan terdiri dari 2-3 bagian, dan sebagian di antaranya harus melalui proses laminating. Nah, proses laminating plastik itulah yang tidak semua percetakan mau mengerjakan karena mereka hanya terbiasa melaminating kertas. “Masalah yang sesungguhnya, orang kalau sudah nyaman mengerjakan satu hal jadi enggan memikirkan bekerja dengan cara lain,” ungkap Delli.
Sebenarnya, prosesnya tergolong mudah. Setelah selesai dicetak di percetakan, kemasan setengah jadi itu dibawa kembali ke rumah untuk diserahkan kepada 20 orang warga masyarakat sekitar. “Sebulan kami bayar Rp 6 juta untuk 30 ribu piece kemasan yang dilipat dan ditempeli stiker,” ujarnya. Proses berikutnya, mengepres hingga menjadi kemasan yang siap diisi produk. Selanjutnya, plastik-plastik kemasan itu dikirimkan ke pelanggan yang memang sudah memiliki mesin continue sealer sendiri. Mesin ini bisa dibeli di D&D. “Mereka umumnya membeli mesin itu setelah mengikuti pelatihan yang saya berikan,” kata Delli yang dalam sebulan bisa memberi empat kali pelatihan.
Pelatihan tersebut dimulai sejak 2007 dan menjadi bisnis tersendiri bagi D&D. Tarifnya Rp 9,5 juta buat pelatihan tiga hari lengkap dengan dua instruktur, mesin pembungkus, dan juga berbagai contoh kemasan D&D. Biaya itu di luar biaya akomodasi dan tiket pesawat pulang-pergi. Menurut Delli, umumnya yang mengundang D&D adalah departemen yang terkait dengan pengembangan UKM seperti Departemen Perdagangan, Departemen Perindustrian, serta Kementerian Koperasi dan UKM.
Jadi, selain bisnis pelatihan, D&D juga menjual mesin sealer yang harganya mulai dari ratusan ribu hingga belasan juta rupiah. “Kami biasanya menyarankan pembelian mesin berdasarkan kapasitas produksi mereka,” kata Delli. UKM yang memproduksi dalam jumlah kecil dan hanya memiliki 1-5 karyawan, disarankan Delli, sebaiknya mengambil mesin sealer manual seharga Rp 350 ribu yang dioperasikan dengan tangan. Dalam sebulan, D&D bisa menjual hingga 20 unit mesin kecil dan 10 unit mesin sedang.
D&D tidak menarik biaya lagi untuk desain plus pembuatan mereknya. “Soalnya banyak pengusaha kecil yang tidak paham soal merek. Jadi, ujung-ujungnya kami bantu juga mencarikan mereka merek buat produknya,” tutur Maria. Selama ini, D&D berpromosi melalui pameran Departemen Perdagangan, Departemen Perindustrian, dan sebagainya.
Praktisi branding Daniel Surya mengatakan, yang dilakukan D&D adalah suatu terobosan yang sangat membantu UKM. Tak banyak pengusaha pengemasan yang mau menerima order dari pengusaha UKM karena jumlah pesanannya kecil. Meski demikian, Daniel menyarankan agar D&D terus menjaga inovasinya dan juga delivery time-nya. Karena, kedua hal itulah yang biasanya membuat bisnis kerap tersaingi. “Ini sebenarnya bisnis kreatif. D&D bisa mencari solusi kreatif yang relevan bagi UKM,” papar Country Director Brand Union Indonesia itu.
Daniel berharap, jika nanti D&D sudah menjadi usaha menengah, pasar bawah yang pernah membesarkannya jangan sampai ditinggalkan, karena tidak ada yang membantu pasar itu. “Usahakan pula agar jangan atau setidaknya minimum dalam menarik biaya desain karena UKM umumnya belum mampu membayar biaya desain,” Daniel menganjurkan. UKM, lanjut Daniel, sangat mengharapkan one stop packaging solution, jadi termasuk desain dan cetak kemasan dalam satu harga.
Sementara itu, Anton Amrin, salah satu klien D&D yang menjabat sebagai Direktur Operasional Pupuk Saputra, mengaku telah memesan kemasan pouch 1 kg sejak 2008. “Biasanya, kami pesan per kuartal sebanyak 15 ribu piece dengan harga Rp 1.500/piece. Setelah kami bandingkan, ternyata kualitasnya sama baiknya dengan perusahaan besar. Keunggulan lain, pesanannya diperbolehkan dalam jumlah sedikit,” papar Anton yang perusahaannya memiliki kapasitas produksi 100 ton/bulan.
Source : http://202.59.162.82/cetak.php?cid=1&id=10183&url=http%3A%2F%2F202.59.162.82%2Fswamajalah%2Ftren%2Fdetails.php%3Fcid%3D1%26id%3D10183
|